WidodoLesta.com – Kopling hidrolik menjadi alternatif menarik bagi para pengendara motor saat berkendara. Terutama, kopling hidrolik banyak digunakan oleh pengendara motor sport sebagai pengganti kopling manual.
Penggunaan kopling manual dapat mengakibatkan rasa pegal dan lelah pada pengendara, terutama jika penggunaan motor sport sehari-hari seperti perjalanan ke kantor. Oleh karena itu, ada beberapa kelebihan dan kekurangan yang perlu diketahui terkait penggunaan kopling hidrolik pada motor.
Cara Kerja Kopling Hidrolik
Bagi mereka yang belum familiar dengan cara kerjanya, kopling hidrolik menggunakan zat cair, seperti minyak, untuk mentransfer tenaga dari piston ke master rem. Secara garis besar, cara kerja kopling ini mirip dengan sistem rem cakram.
Pada sistem rem cakram, minyak rem dan piston digunakan untuk mendorong kampas rem, sehingga pengendara tidak membutuhkan banyak tenaga untuk mengoperasikan tuas rem. Konsep serupa juga diterapkan pada kopling hidrolik.
Menurut informasi dari situs Suzuki, cara kerja kopling hidrolik dimulai ketika pengendara menarik tuas kopling. Hal ini menyebabkan tekanan pada master kopling dan minyak langsung mengalir melalui selang. Kemudian, minyak tersebut akan menuju piston bawah dan tuas pembebas kopling akan terdorong.
Kelebihan Kopling Hidrolik
Setelah mengetahui cara kerja kopling hidrolik, terdapat beberapa keuntungan penggunaannya bagi pengendara motor. Salah satu alasan banyak pengendara beralih ke kopling hidrolik adalah karena lebih ringan.
Penggunaan kopling hidrolik sangat terasa ketika berkendara di jalan yang padat. Dengan menggunakan kopling hidrolik, tangan pengendara tidak mudah lelah saat mengoperasikan tuas kopling.
Selain itu, penggunaan kopling hidrolik juga tergolong mudah dan membutuhkan sedikit perawatan. Karena itulah, banyak pengendara motor sport yang memilih menggunakan kopling hidrolik.
Kekurangan Kopling Hidrolik
Meskipun demikian, ada beberapa kekurangan yang perlu diperhatikan terkait penggunaan kopling hidrolik. Salah satunya adalah adanya gangguan pada rasa atau “feel” yang dirasakan oleh pengendara terhadap kopling, sehingga membuatnya kurang nyaman.
Selain itu, penggunaan master kopling yang berkualitas juga berpengaruh terhadap kinerja kopling hidrolik. Jika menggunakan master kopling yang kurang baik, maka respons balik dari kopling mungkin tidak sesuai. Bagi pengendara yang terbiasa dengan kopling manual, hal ini mungkin terasa aneh.
Selanjutnya, jika piston yang digunakan pada sepeda motor tidak berkualitas, ada kemungkinan piston dapat rusak. Hal ini biasanya terjadi akibat penggunaan kopling terlalu keras.
Meskipun tangan pengendara akan merasa nyaman saat mengoperasikan tuas kopling hidrolik, namun komponen piston pendorong akan mengalami beban yang besar. Pasalnya, piston tidak hanya bertugas mendorong sistem kopling, tetapi juga menahan tekanan balik dari perangkat saat tuas kopling ditarik.
Oleh karena itu, sebaiknya hindari menarik tuas kopling terlalu keras secara sengaja. Selain itu, perhatikan penggunaan suku cadang yang tepat saat ingin beralih ke kopling hidrolik.









