Malam Kedelapan Belas: Mendapat Ridha Allah
Malaikat menyampaikan bahwa Allah telah meridhainya dan juga kedua orang tuanya.
Malam Kesembilan Belas: Derajat Tinggi di Surga
Allah mengangkat derajatnya di surga.
Malam Kedua Puluh: Pahala Syuhada dan Orang Shalih
Pahalanya seperti orang yang mati syahid dan orang-orang shalih.
Malam Kedua Puluh Satu: Rumah dari Cahaya
Allah membangun rumah dari cahaya di surga untuknya.
Malam Kedua Puluh Dua: Selamat dari Kesusahan Kiamat
Ia selamat dari berbagai kesusahan dan kebingungan pada hari kiamat.
Malam Kedua Puluh Tiga: Kota di Surga
Allah membangun sebuah kota di dalam surga untuknya.
Malam Kedua Puluh Empat: Doa Mustajab
Ia memperoleh 24 doa yang dikabulkan.
Malam Kedua Puluh Lima: Terhindar dari Siksa Kubur
Allah menghilangkan siksa kubur darinya.
Malam Kedua Puluh Enam: Pahala Berlipat 40 Tahun
Pahalanya ditingkatkan selama 40 tahun.
Malam Kedua Puluh Tujuh: Melewati Shirath Secepat Kilat
Ia melewati jembatan Shirathal Mustaqim secepat sambaran kilat.
Malam Kedua Puluh Delapan: Seribu Derajat di Surga
Allah mengangkat seribu derajat baginya di surga.
Malam Kedua Puluh Sembilan: Pahala Seribu Haji
Ia mendapat pahala seperti seribu haji yang diterima.
Malam Ketiga Puluh: Jamuan Surga
Pada malam terakhir, Allah mempersilakan hamba-Nya menikmati buah surga, air salsabil, dan telaga kautsar. Sebuah gambaran penutup yang penuh kemuliaan.
Perlu dipahami, keterangan dalam kitab Durratun Nasihin ini bukan hadis sahih. Namun banyak ulama menjadikannya sebagai motivasi agar umat Islam semakin semangat menghidupkan malam Ramadhan.
Intinya sederhana. Tarawih bukan sekadar rutinitas tahunan. Ia adalah kesempatan memperbaiki diri, memperbanyak ampunan, dan mendekat kepada Allah. Kalau bisa konsisten satu bulan penuh, itu sudah menjadi kemenangan tersendiri.
Ramadhan hanya datang setahun sekali. Sayang rasanya jika malam-malamnya lewat begitu saja tanpa Tarawih.








